Ustd >Roy Sukarjan Mewakili ketua DPP LDII Dalam sarasehan .{foto : Suk)

Jakarta, ldii.com: Isu radikalisme menjadi isu yang sangat menarik untuk dibahas. Hal ini disebabkan karena radikalisme adalah istilah yang dapat berarti positif dan dapat pula berarti negatif yang batasan pengertiannya masih multi tafsir bergantung pada siapa yang menafsirkan. Demikian diungkapkan Tengku Zulkarnaen, Pengurus MUI Pusat usai mengikuti Sarasehan tentang Radikalisme dan nasionalisme yang diselenggarakan oleh Markas Bintal Angkatan darat (AD) bersama Menteri Agama RI, Ketua BPIP, Kepala BNPT Polri, dan Tokoh Enam Agama di Indonesia(Jakarta, 21 November, 2019).

Sarasehan yang mengusung Tema “Menakar Radikalisme Dan Nasionalisme Serta Solusinya dalam Rangka Memperkokoh Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara Menuju Indonesia Maju“. dibuka oleh Kepala Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat (Kadisbilad) Brigjen TNI Asep Syarifudin
Dalam sambutanya Asep Syarifudin menyampaikan Ketidakjelasan batasan Radikalisme dan nasionalisme berakibat pada timbulnya spekulasi pemaknaan yang kontradiktif antara satu kelompok dengan lainnya bahkan menjadi saling curiga yang sangat mengancam terhadap keutuhan dan persatuan Bangsa Indonesia yang sangat kita cintai bersama.
“Ternyata batasan radikalisme itu sangat beragam, oleh karena itu kami merasa perlu untuk duduk bersama dengan berbagai elemen masyarakat, bertemu dalam forum sarasehan ini, sebagai upaya awal untuk sinkronisasi permasalahan radikalisme,“ ujar Brigjen Asep Syarifudin. Jakarta,21/11/2019.
Sarasehan Bintal TNI AD ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, tokoh lintas agama, praktisi dan akademisi serta prajurit di jajaran Angkatan Darat .Hadir pada acara sarasehan tersebut, Roy Sukarjan, Pengurus DPP LDII yang mewakili ketuanya karena berhalangan hadir.{fin}